MICHAEL ESSIEN (Ghana), Kisah Si Tukang Roti

''Ibu! Berhentilah membuat roti. Biarkan saya yang menanggung hidup ibu.''
Demikian Michael Essien, ikon sepak bola Ghana, kepada ibunya enam tahun lalu. Aba Gyanode, sang ibu pemain termahal Afrika itu, masih mengingat jelas kata-kata itu.
Saat itu di tahun 2000, Essien baru saja meneken kontrak dengan Bastia -- klub di Liga Prancis. Ia masih berusia 18, tapi telah menyit perhatian publik karena kemampuannya bermain sepak bola.
Aba bekerja keras membuat dan menjual roti di sebuah pasar di Accra, ibu kota Ghana, untuk membesarkan lima anaknya. Selama empat tahun berjuang sendirian, sedangkan James -- ayah Essien -- meninggalkannya begitu saja.
''Dulu saya pembuat roti yang trampil. Setiap hari saya mengajari Essien,'' kata Aba yang kini tinggal di rumah besar di Mallam, kawasan elite di Accra, bersama tujuh kerabatnya -- termasuk ibu kandungnya. ''Essien memberikan rumah ini. Ia juga membelikan kami mobil, perabot rumah. Seluruh saudara perempuannya diberi uang.
Essien mengubah nasib keluarganya dengan sepak bola. Semua itu terjadi ketika ia dikontrak Bastia. Ia menjadi tulang punggung keluarga.
Dari Bastia, Essien pindah ke Olympique Lyon. Di klub ini, Essien meraih gelar Liga Prancis, sampai akhirnya dibeli Chelsea dengan harga 38 juta euro (Rp 399 miliar) dan menjadi pemain termahal Afrika.
Namun, menurut Aba, kekayaan dan ketenaran Essien telah menimbulkan tekanan bagi keluarganya. ''Kesuksesan Essien membuat orang banyak datang kepada kami dengan berbagai persoalannya,'' ujar Aba yang berbicara dalam bahasa Gan. ''Semua meminta bantuan.''
Menariknya, semua itu tidak membuat Essien tinggi hati. Ia masih menyapa semua tetangga setiap kali pulang kampung. ''Dia masih normal. Masih suka bermain sembunyi-sembunyi, atau menendang bola dengan anak-anak kecil,'' kata Aba.
Essien bukan satu-satunya putra Aba yang mahir bermain sepak bola. Ketika kecil, Alex Ackon -- kakak Essien -- lebih menonjol. Ia menarik perhatian masyarakat saat bermain di sekolah. Tapi pada usia 15, Ackon meninggal. Saat itu Essien masih berusia dua tahun.
James, ayah Essien, sebelumnya pemain sepak bola profesional. Ia sempat mengajari Essien tapi tidak lama, karena bercerai ketika Essien mulai beranjak remaja.
Usia enam tahun, Essien telah memperlihatkan bakatnya. Ia bermain di lapangan kecil di Awutu Senya, kota kecil dan miskin di sebelah barat Accra. Usia 10 tahun, Essien masuk timnas junior Ghana.
Saat itulah Aba menyadari sepak bola yang dimainkan Essien sebagai hobi akan mengubah jalan hidupnya. Aba selalu menyaksikan Essien bertanding. Apalagi ketika Ghana melewati kualifikasi zona Afrika.
Kini, Aba seperti tidak sabar menunggu Piala Dunia 2006. Ia berjanji menyaksikan saat-saat penting ketika putra kasayangannya mencetak prestasi dunia. Tidak hanya Aba, semua rekan masa kecil Essien dan penduduk Ghana juga seperti itu.
Meski telah terpisah sedemikian jauh, dan berbeda status sedemikian lebar, teman-teman masa kecil Essien masih mengenang putra pembuat roti itu dengan kekaguman luar biasa.
''Dia sanagt menakjubkan,'' ujar Anthony Annan, rekan bermain Essien di Super Rainbow -- klub di Liga Junior Ghana. ''Dia tahu bagaimana bermain bola. Dia sangat menyenangkan, sedikit jahil, namun ramah pada setiap orang.''
Sumber: Republika
Comments