CARLES PUYOL (Spanyol): Si Banteng Ketaton



Malam menjelang partai final Liga Champions 2006, striker Arsenal, Thierry Henry, berdiskusi keras dengan pelatihnya, Arsene Wenger. Topik pembicaraan mereka hanya satu: bagaimana menaklukkan Carles Puyol, bek tengah Barcelona yang sangat kuat, mirip banteng ketaton, tetapi gesit dan tak pernah bisa dilewati. Henry memang akhirnya bisa "mengalahkan" Puyol, lewat umpan bola mati ke Sol Campbell. Namun, Arsenal tetap tak mampu mencatat sejarah di Stade de France. Puyol-lah yang berpesta dengan mengangkat piala.

Carles Puyol memang jiwa di jantung pertahanan Barcelona dan kini di sentral pertahanan Spanyol. Usianya belum genap 20 tahun saat Barcelona untuk pertama kalinya memercayakan lini belakangnya pada pemain kelahiran 13 April 1978 itu. Meski kemudian secara reguler Puyol tampil untuk tim utama Barcelona, kesempatan tampil di tim nasional baru terbuka setelah Manuel Pablo cedera. Puyol kemudian menjadi andalan di lini belakang Spanyol saat tampil di Piala Dunia 2002.

Gayanya yang lugas serta visinya yang tajam dalam membaca serangan lawan mengingatkan orang pada sosok Fernando Hierro, bek andalan Real Madrid dan Spanyol di tahun 1990-an. Hierro sendiri memuji penampilan Puyol yang dikatakannya: fantastik! "Dia pemain yang saya puja. Dia bisa melakukan apa saja untuk membuat lini pertahanan tetap aman," ujar Hierro.

Adalah pelatih asal Belanda, Louis van Gaal, yang berjasa besar mengasah bakat Puyol jadi tangguh seperti sekarang. Melihat talenta yang luar biasa, Van Gaal menarik Puyol dari Barcelona B ke tim senior dan langsung menempatkannya sebagai bek sentral di awal musim 1999- 2000.

Saat Barcelona dilatih Frank Rijkaard, peran Puyol semakin besar. Karakternya yang keras, tetapi penuh wibawa, membuat rekan-rekannya merasa nyaman dan aman manakala dia berada di lapangan. (joy)

Sumber: Kompas

Comments

Popular posts from this blog

RONALDINHO, Pemain Terbaik Sejagad 2005

JUNINHO Kandasnya Mimpi Si Anak Kecil