HIDETOSHI NAKATA (Jepang): Apa Mau Dikata



Ada beberapa pemain yang pantas mengisi lini tengah, dua di antaranya Shunsuke Nakamura dan Shinji Ono. Tetapi, Hidetoshi Nakata adalah pilihan tak terbantahkan untuk satu tempat di lini vital tersebut.

Pemain berusia 29 tahun yang malang melintang di Liga Italia dan kini di Liga Inggris dibekali visi dan umpan-umpan terukur dari lini tengah kepada penyerang. Tidak heran kalau sebagian besar insan sepak bola di Jepang mulai melupakan legenda Kazu Miura dan berpaling kepada Nakata sebagai pemain yang banyak menarik perhatian pencandu bola di Negeri Sakura.

Pada usai 14 tahun, Nakata sudah mengisi tim nasional yunior. Enam tahun kemudian dia mulai debut di tim senior melawan Korea Selatan, Mei 1997.

Talenta dan bakat besar yang dimiliki membawanya mencapai prestasi tertinggi setahun kemudian ketika dia memimpin Jepang untuk pertama kali lolos ke putaran final Piala Dunia, Perancis 1998. Jepang gagal menembus babak kedua, tetapi Nakata tampil penuh di seluruh pertandingan penyisihan grup.

Permainannya yang tenang, penuh visi, dan matang dalam melepaskan umpan dari lini tengah membuat beberapa klub di Eropa mengincarnya. Perugia (Italia) akhirnya menjadi tempat pertama kariernya di Eropa.

Sebagai pemain yang dua kali menggondol predikat terbaik di Asia—tahun 1997 dan 1998—Nakata semakin memberikan kepercayaan bagi Perugia. Nakata pun menjadi pemain Jepang kedua, setelah Kazu Miura yang bermain di Serie A Liga Italia.

Lini tengah Perugia tidak saja semakin solid dan hidup dalam melancarkan serangan dengan kehadiran Nakata, tetapi dari kaki dan kepalanya lahir sepuluh gol dalam 33 penampilan. Satu setengah musim di Perugia, Nakata digaet AS Roma dengan nilai transfer (tertutup) enam kali lipat lebih besar dari yang diberikan Perugia.

Walau hanya satu musim di AS Roma, Nakata sempat menikmati gelar juara tahun 2001. Di bawah Pelatih Fabio Capello, AS Roma meraih juara Serie A.

Musim yang kurang menyenangkan di AS Roma karena lebih banyak dicadangkan oleh Capello, Nakata tampil menawan setahun kemudian ketika memimpin tim nasional Jepang melaju sampai di babak kedua Piala Dunia 2002. Jepang dan Nakata terhenti sewaktu dikalahkan Turki di babak kedua.

Dari AS Roma, Nakata mampir di AC Parma dan Fiorentina. Namun, karena lebih banyak dicadangkan, Fiorentina menerima tawaran Bolton Wanderers (Inggris) untuk mendapatkan Nakata dengan status pinjaman.

Di Bolton, perjalanan kariernya belum juga membaik. Faktor fisik membuatnya sulit beradaptasi dengan cepat. Tidak heran kalau Pelatih Sam Alardyce lebih sering mencadangkannya. Kesempatan bagi Nakata bermain sebagai starter terjadi di beberapa pertandingan menjelang akhir musim kompetisi lalu.

Lepas dari prestasinya yang turun-naik ini, Pelatih Zico mau tak mau harus mengutamakannya ke Jerman. Dan, Nakata, apa mau dikata, tetap ditunggu dan dituntut pembuktiannya di penampilan ketiganya dalam Piala Dunia. (YES)

Sumber: Kompas

Comments

Popular posts from this blog

CARLES PUYOL (Spanyol): Si Banteng Ketaton

RONALDINHO, Pemain Terbaik Sejagad 2005

JUNINHO Kandasnya Mimpi Si Anak Kecil