OWEN, Bocah Ajaib yang Terus Menanjak
Dari Album Lama
Ia dianggap striker terbaik Inggris saat ini. Tapi ia tetap seorang remaja yang sopan dan rendah hati
Debut Ruud Gullit sebagai pelatih Newcastle United berakhir dengan malu besar. Di kandang sendiri, Minggu (30/8), timnya dipecundangi Michael Owen, remaja berusia 18 tahun yang memperkuat Liverpool. Owen mencipta hattrick mengesankan, lewat larinya yang kencang dan kejeliannya mencari ruang kosong di kotak penalti lawan.
Tiga gol Owen membuat Liverpool menang besar 4-1 di Stadion St. James Park, kebanggaan The Magpies. Padahal Newcastle tergolong tim elite di Liga Inggris, dan diperkuat Alan Shearer, penyerang utama sekaligus kapten tim nasional Inggris.
"Hattrick itu sensasional. "Saat ini Owen adalah striker terbaik Inggris," puji pelatih timnas Glenn Hoddle. "Kalau dia main seperti itu, saya tak akan pernah melepaskannya." Hoddle pun langsung memutuskan Owen sebagai pendamping utama Alan Shearer, menghadapi pra Piala Eropa Sabtu (5/9) melawan Swedia. Owen menggusur tandem lama Shearer, Teddy Sheringham.
"Seluruh dunia menaruh hormat padanya. Para pemain belakang kini harus mewaspadainya. Jika lawan segan dan takut, semua akan lebih mudah," jelas Hoddle, yang juga menangani Inggris di Piala Dunia Perancis.
Michael Owen, kelahiran Chester (Wales), 14 Desember 1979, memang pantas menerima pujian itu. Ia tampil gemilang di Liga Inggris 1997/1998, yang memberinya predikat pemain terbaik Inggris periode itu. Namun yang paling menakjubkan adalah penampilan briliannya di Piala Dunia lalu, terutama saat menghadapi Argentina di 16 besar.
Goalnya yang sensasional dengan melewati dua pemain belakang Argentina, Jose Chamot dan Roberto Ayala, menjadi gol terindah selama Piala Dunia. "Golnya luar biasa. Dalam usia semuda itu, ia mengenakan kostum Inggris seakan tanpa beban," puji pelatih Brasil saat itu, Mario Zagallo. Owen sendiri juga sangat puas. "Gol itu paling berkesan bagi saya," katanya.
Cepat dan Berani. Segala kehebatan yang ia miliki itu bertambah bobotnya mengingat usia Owen yang masih sangat belia. Penampilan gemilangnya di Perancis mengingatkan publik bola pada Pele, bekas megabintang Brasil, yang menyihir dunia dalam Piala Dunia 1958 di saat usianya belum 18 tahun.
Berbagai julukan kini dilekatkan pada Michael Owen, antara lain The Supercool Kid, The New Phenomenon, The Wonder Boy dan Baby Gol. Julukan The Supercool Kid diberikan karena ketenangannya dalam bermain. Ia begitu menikmati permainan, dan tak punya tekanan. "Ia secara konsisten menunjukkan temperamennya yang sangat stabil, di dalam dan di luar lapangan," kata Hoddle.
Namun modal utama Owen adalah larinya yang sangat kencang dan ketepatannya membidik gawang lawan. Ia juga berani berjibaku dengan pemain yang jauh berpengalaman. Kecepatan larinya sering membuat lawan yang menjaganya tercecer-cecer. Maka pemain belakang lawan lebih suka menggunakan jalan pintas yang lebih efektif untuk membendung Bocah Ajaib ini, yaitu dengan menjatuhkannya.
Faktor penunjang lain dalam diri Owen adalah sikapnya yang rendah hati dan mau belajar. Misalnya setelah tampil kurang mengesankan bersama tim Inggris di Kejuaraan Dunia Junior di Malaysia tahun lalu, Owen rajin meminta saran-saran pada dua seniornya di Liverpool: Steve McNamanan dan Robbie Fowler, dua pemain yang sangat digilainya sebelum ia bergabung dengan tim utama Liverpool.
Owen sangat menghormati Fowler, penyerang yang punya insting mencetak gol luar biasa itu. Karena cidera berat yang dialami seniornya itu sejak menjelang Piala Dunia, Owen menggantikannya berduet dengan striker asal Jerman, Karlheinz Riedle.
Michael Owen memulai debutnya di timnas Inggris pada Februari lalu, melawan Cile di Stadion Wembley, London. Meski Inggris kalah 0-2, penampilan Owen menggiurkan. Debut Owen melawan Cile telah memecahkan rekor pemain termuda yang masuk timnas, dengan usia baru 18 tahun 59 hari. Rekor lama dipegang Duncan Edwards, saat masuk timnas dalam usia 18 tahun 183 hari, pada pertandingan pertamanya April 1955.
Meroketnya prestasi Owen di Liverpool dan timnas, tentu memperbesar harga pemain bertinggi badan 176 cm itu. Dan Liverpool yang membesarkannya tak ingin aset itu terbang ke klub lain. Maka Owen diikatnya dengan kontrak enam tahun senilai 12.3 juta dolar Amerika. Untuk menutup klub lain membelinya, Liverpool memasang harga fantastis: 30 juta poundsterling, atau sekitar 660 miliar rupiah.
Namun nama besar dan pujian tak mengubah perangai anak Wales ini. Ia tetap seorang anak manis bagi kedua orang tuanya, Terry dan Jeanette. Owen masih tinggal bersama mereka. "Saya tetap ingin dia sebagai anak yang sopan dengan kelakuan baik dan menghormati orang lain," kata Terry, yang juga mantan pemain Everton. Sebuah cita-cita sederhana dan tulus sang ayah. Dan Owen pun membalasnya dengan baik.
(Mansyur Alkatiri, Majalah UMMAT, September 1998)
Ia dianggap striker terbaik Inggris saat ini. Tapi ia tetap seorang remaja yang sopan dan rendah hati
Debut Ruud Gullit sebagai pelatih Newcastle United berakhir dengan malu besar. Di kandang sendiri, Minggu (30/8), timnya dipecundangi Michael Owen, remaja berusia 18 tahun yang memperkuat Liverpool. Owen mencipta hattrick mengesankan, lewat larinya yang kencang dan kejeliannya mencari ruang kosong di kotak penalti lawan.
Tiga gol Owen membuat Liverpool menang besar 4-1 di Stadion St. James Park, kebanggaan The Magpies. Padahal Newcastle tergolong tim elite di Liga Inggris, dan diperkuat Alan Shearer, penyerang utama sekaligus kapten tim nasional Inggris.
"Hattrick itu sensasional. "Saat ini Owen adalah striker terbaik Inggris," puji pelatih timnas Glenn Hoddle. "Kalau dia main seperti itu, saya tak akan pernah melepaskannya." Hoddle pun langsung memutuskan Owen sebagai pendamping utama Alan Shearer, menghadapi pra Piala Eropa Sabtu (5/9) melawan Swedia. Owen menggusur tandem lama Shearer, Teddy Sheringham.
"Seluruh dunia menaruh hormat padanya. Para pemain belakang kini harus mewaspadainya. Jika lawan segan dan takut, semua akan lebih mudah," jelas Hoddle, yang juga menangani Inggris di Piala Dunia Perancis.
Michael Owen, kelahiran Chester (Wales), 14 Desember 1979, memang pantas menerima pujian itu. Ia tampil gemilang di Liga Inggris 1997/1998, yang memberinya predikat pemain terbaik Inggris periode itu. Namun yang paling menakjubkan adalah penampilan briliannya di Piala Dunia lalu, terutama saat menghadapi Argentina di 16 besar.
Goalnya yang sensasional dengan melewati dua pemain belakang Argentina, Jose Chamot dan Roberto Ayala, menjadi gol terindah selama Piala Dunia. "Golnya luar biasa. Dalam usia semuda itu, ia mengenakan kostum Inggris seakan tanpa beban," puji pelatih Brasil saat itu, Mario Zagallo. Owen sendiri juga sangat puas. "Gol itu paling berkesan bagi saya," katanya.
Cepat dan Berani. Segala kehebatan yang ia miliki itu bertambah bobotnya mengingat usia Owen yang masih sangat belia. Penampilan gemilangnya di Perancis mengingatkan publik bola pada Pele, bekas megabintang Brasil, yang menyihir dunia dalam Piala Dunia 1958 di saat usianya belum 18 tahun.
Berbagai julukan kini dilekatkan pada Michael Owen, antara lain The Supercool Kid, The New Phenomenon, The Wonder Boy dan Baby Gol. Julukan The Supercool Kid diberikan karena ketenangannya dalam bermain. Ia begitu menikmati permainan, dan tak punya tekanan. "Ia secara konsisten menunjukkan temperamennya yang sangat stabil, di dalam dan di luar lapangan," kata Hoddle.
Namun modal utama Owen adalah larinya yang sangat kencang dan ketepatannya membidik gawang lawan. Ia juga berani berjibaku dengan pemain yang jauh berpengalaman. Kecepatan larinya sering membuat lawan yang menjaganya tercecer-cecer. Maka pemain belakang lawan lebih suka menggunakan jalan pintas yang lebih efektif untuk membendung Bocah Ajaib ini, yaitu dengan menjatuhkannya.
Faktor penunjang lain dalam diri Owen adalah sikapnya yang rendah hati dan mau belajar. Misalnya setelah tampil kurang mengesankan bersama tim Inggris di Kejuaraan Dunia Junior di Malaysia tahun lalu, Owen rajin meminta saran-saran pada dua seniornya di Liverpool: Steve McNamanan dan Robbie Fowler, dua pemain yang sangat digilainya sebelum ia bergabung dengan tim utama Liverpool.
Owen sangat menghormati Fowler, penyerang yang punya insting mencetak gol luar biasa itu. Karena cidera berat yang dialami seniornya itu sejak menjelang Piala Dunia, Owen menggantikannya berduet dengan striker asal Jerman, Karlheinz Riedle.
Michael Owen memulai debutnya di timnas Inggris pada Februari lalu, melawan Cile di Stadion Wembley, London. Meski Inggris kalah 0-2, penampilan Owen menggiurkan. Debut Owen melawan Cile telah memecahkan rekor pemain termuda yang masuk timnas, dengan usia baru 18 tahun 59 hari. Rekor lama dipegang Duncan Edwards, saat masuk timnas dalam usia 18 tahun 183 hari, pada pertandingan pertamanya April 1955.
Meroketnya prestasi Owen di Liverpool dan timnas, tentu memperbesar harga pemain bertinggi badan 176 cm itu. Dan Liverpool yang membesarkannya tak ingin aset itu terbang ke klub lain. Maka Owen diikatnya dengan kontrak enam tahun senilai 12.3 juta dolar Amerika. Untuk menutup klub lain membelinya, Liverpool memasang harga fantastis: 30 juta poundsterling, atau sekitar 660 miliar rupiah.
Namun nama besar dan pujian tak mengubah perangai anak Wales ini. Ia tetap seorang anak manis bagi kedua orang tuanya, Terry dan Jeanette. Owen masih tinggal bersama mereka. "Saya tetap ingin dia sebagai anak yang sopan dengan kelakuan baik dan menghormati orang lain," kata Terry, yang juga mantan pemain Everton. Sebuah cita-cita sederhana dan tulus sang ayah. Dan Owen pun membalasnya dengan baik.
(Mansyur Alkatiri, Majalah UMMAT, September 1998)
Comments